Beranda » Blog » Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan DBD, Perlu diingat!

Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan DBD, Perlu diingat!

Diposting pada 17 Oktober 2025 oleh manggustore / Dilihat: 282 kali / Kategori:

Ketika kita berbicara tentang nyamuk, jentik (atau dikenal juga sebagai jentik-jentik) adalah tahap larva yang menarik. Jentik hidup di dalam air dan memiliki perilaku unik, sering mendekat atau “menggantung” pada permukaan air saat bernapas. Namanya sendiri berasal dari gerakan yang terlihat ketika mereka bergerak di air, dan di beberapa daerah, mereka juga dikenal dengan sebutan lokal seperti “encuk” atau “uget-uget”. Jentik bukan hanya menjadi fokus dalam pengendalian populasi nyamuk yang membawa penyakit serius seperti malaria dan demam berdarah dengue. Mereka juga digunakan dalam berbagai tempat sebagai pakan ikan hias. Ternyata, jentik-jentik memiliki peran yang tak terduga di alam, menjadi sumber makanan yang bergizi bagi ikan. Memahami daur hidup nyamuk penting sebagai langkah pencegahan terhadap risiko penularan berbagai penyakit. Meskipun tampak sepele, nyamuk adalah perantara bagi berbagai jenis penyakit seperti demam berdarah, chikungunya, malaria, kaki gajah, demam kuning, hingga infeksi virus Zika. Berbagai virus dan parasit yang menyebabkan penyakit tersebut bisa masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. Nyamuk terbagi menjadi beragam jenis, setiap jenis membawa penyakit yang berbeda. Misalnya, penyakit DBD, chikungunya, dan infeksi virus Zika ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, sementara malaria dan kaki gajah ditularkan oleh nyamuk Anopheles.

BACA JUGA:

Memahami Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), mari Kita Simak!

Jenis apapun, nyamuk memiliki tahapan daur hidup mirip satu sama lain. Ada empat tahapan dalam daur hidup nyamuk yang perlu diketahui, yaitu telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Nyamuk bertelur hingga ratusan butir sekaligus dan biasanya suka bertelur di tempat-tempat berair. Telur nyamuk dapat bertahan hingga 8 bulan dalam lingkungan kering, tetapi biasanya menetas menjadi jentik nyamuk dalam 24–48 jam. Jentik tampak seperti ulat kecil dan bisa hidup di air selama 4–14 hari sebelum menjadi pupa. Pupa, fase terakhir di dalam air, akan berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam 1–4 hari. Ketika dewasa, nyamuk betina mencari sumber darah untuk bertelur, sementara nyamuk jantan bertahan dengan nektar bunga. Gigitan nyamuk dapat menimbulkan reaksi kulit gatal, kemerahan, dan benjolan, serta menyebabkan penularan berbagai penyakit. Mengetahui daur hidup nyamuk adalah langkah penting dalam mencegah risiko penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan upaya penting yang melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satu tolak ukurnya adalah Angka Bebas Jentik (ABJ) melalui program PSN-3M, yang merefleksikan tingkat keterlibatan masyarakat dalam mencegah DBD. Sayangnya, pada tahun 2014, capaian ABJ secara nasional belum memenuhi target program yang telah ditetapkan, hanya sebesar 24,06%.

Kondisi ABJ di Berbagai Wilayah

Kondisi angka bebas jentik (ABJ) di berbagai wilayah di Indonesia dapat berbeda-beda, tergantung pada beberapa faktor, seperti faktor geografis, ekonomi, sosial budaya, dan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan. Secara umum, kondisi ABJ di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, yang menunjukkan bahwa hanya 57,1% rumah di Indonesia yang memiliki ABJ ≥ 95%. Berikut adalah kondisi ABJ di beberapa wilayah di Indonesia:

  • Pada wilayah perkotaan, kondisi ABJ umumnya lebih baik dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti akses yang lebih mudah terhadap informasi dan layanan kesehatan, serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
  • Pada wilayah yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah, kondisi ABJ umumnya lebih buruk dibandingkan dengan wilayah yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti terbatasnya akses terhadap informasi dan layanan kesehatan, serta tingkat pendidikan yang lebih rendah.
  • Pada wilayah yang memiliki budaya yang tertutup, kondisi ABJ umumnya lebih buruk dibandingkan dengan wilayah yang memiliki budaya yang terbuka. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya pemahaman tentang kesehatan, serta stigma dan diskriminasi terhadap orang yang sakit.

Semetara itu dari data di lapangan, terlihat bahwa di beberapa daerah, ABJ masih jauh dari target nasional. Di Manado, misalnya, ABJ mencapai 51,39%. Begitu juga di Jawa Timur, di Kelurahan Sukerejo ABJ hanya berkisar 65%, sementara di Kelurahan Mojaroto hanya 55%. Hal ini menandakan bahwa partisipasi masyarakat dalam program PSN-3M belum optimal di lingkungan masing-masing. Untuk meningkatkan kondisi ABJ di Indonesia, diperlukan upaya yang komprehensif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Upaya-upaya tersebut antara lain:

  • Peningkatan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan: Pemerintah perlu memastikan bahwa masyarakat memiliki akses yang mudah terhadap informasi dan layanan kesehatan. Informasi dan layanan tersebut harus komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  • Pemberdayaan keluarga dan masyarakat: Keluarga dan masyarakat perlu diberdayakan untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan dan mendukung masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Peningkatan partisipasi masyarakat: Masyarakat perlu didorong untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberantasan DBD, seperti kegiatan 3M Plus.

Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemberantasan DBD, sehingga kondisi ABJ di Indonesia dapat meningkat.

BACA JUGA:

Menjaga Kebugaran Tubuh dengan Kunci Sederhana: Air Putih yang Cukup

Peran Masyarakat dalam Pemberantasan DBD

Langkah pemberantasan jentik nyamuk (PSN) melibatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat. Nyamuk Aedes sp., yang merupakan vektor penyakit, suka meletakkan telurnya pada air yang bersih. Oleh karena itu, memperhatikan kebersihan tempat penampungan air serta memeriksa barang-barang bekas yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk menjadi sangat penting. Peran masyarakat dalam pemberantasan DBD adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri. Kegiatan PSN merupakan kegiatan utama dalam pemberantasan DBD. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh setiap individu, keluarga, dan masyarakat secara mandiri. Kegiatan PSN meliputi:
    1. Menguras tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, seperti bak mandi, ember, vas bunga, dan lain-lain.
    2. Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air yang tidak digunakan.
    3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
  2. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang DBD.

Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran yang tinggi tentang DBD, termasuk tentang cara pencegahan, tanda dan gejala, serta penanganannya. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti penyuluhan, sosialisasi, dan penyebaran informasi melalui media massa.

  1. Membantu petugas kesehatan dalam pemberantasan DBD. Masyarakat dapat membantu petugas kesehatan dalam pemberantasan DBD, seperti:
    1. Mengikuti kegiatan PSN yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan.
    2. Memberikan informasi kepada petugas kesehatan jika menemukan sarang nyamuk di lingkungannya.
    3. Mendukung program-program pemberantasan DBD yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Kendala dalam Penanggulangan

Meskipun sudah dilakukan berbagai usaha untuk menangani masalah tersebut, hasilnya belum optimal. Beberapa kendala yang terus muncul antara lain, keberadaan berbagai tempat seperti kaleng bekas, ban bekas, dan barang-barang tak terpakai lainnya yang masih menjadi tempat favorit bagi nyamuk Aedes sp. untuk berkembang biak. Hal ini masih menjadi perhatian utama dalam usaha memerangi penyebaran nyamuk dan mencegah penularan penyakit.

Puskesmas Kutaraya: Pusat Pelayanan Masyarakat

Puskesmas Kutaraya adalah pusat layanan kesehatan yang sangat mudah diakses oleh masyarakat di sekitarnya. Sebagai penyedia layanan kesehatan yang penting bagi wilayah tersebut, Puskesmas Kutaraya memiliki peran krusial dalam penanganan kasus DBD. Meski telah memenuhi standar nasional, tingginya jumlah kasus DBD menyoroti perlunya tindakan pencegahan dan penanganan yang lebih intensif serta komprehensif. Diperlukan upaya lebih serius dalam pengendalian dan pencegahan penyakit ini.

Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) melibatkan partisipasi masyarakat yang sangat penting. Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah tolak ukur untuk program PSN-3M, mencerminkan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan DBD. Meskipun telah ada upaya, pada tahun 2014, capaian ABJ secara nasional belum memenuhi target program, hanya sebesar 24,06%. Situasi ABJ di berbagai wilayah Indonesia bervariasi, dipengaruhi oleh faktor geografis, ekonomi, sosial, dan akses informasi. Data menunjukkan bahwa ABJ belum mencapai target nasional di beberapa daerah. Di Manado, ABJ hanya 51,39%, dan di Jawa Timur, di beberapa kelurahan angkanya di bawah 70%. Ini menunjukkan partisipasi masyarakat dalam program PSN-3M belum optimal di daerah masing-masing. Untuk meningkatkan ABJ, diperlukan langkah-langkah seperti peningkatan akses informasi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan masyarakat, dan peningkatan partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat perlu diberdayakan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berpartisipasi aktif dalam pemberantasan DBD. Kendala masih muncul, termasuk keberadaan wadah bekas yang menjadi tempat favorit bagi nyamuk Aedes sp. untuk berkembang biak. Meskipun puskesmas seperti Kutaraya telah memenuhi standar nasional, jumlah kasus DBD yang tinggi menandakan perlunya tindakan lebih serius dalam pencegahan dan penanganan penyakit ini. Melalui partisipasi masyarakat dan upaya komprehensif, diharapkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan DBD meningkat, dan kondisi ABJ di Indonesia dapat membaik.

Referensi

Tim Redaksi. 2023. “Jentik.” Wikipediaensiklopedia. Rubrik Berita. Edisi Senin, 12 Juli. https://id.wikipedia.org/ diakses Kamis, 02 November 2023, 10:24.

Bella, Airindya. 2022. “Daur Hidup Nyamuk dan Cara Memutusnya untuk Mencegah Penyakit.” Alodokter. Rubrik Berita. Edisi Senin, 04 Desember. https://www.alodokter.com/ diakses Kamis, 02 November 2023, 10:24.

Nareza, Meva. 2023. “Demam Berdarah.” Alodokter. Rubrik Berita. Edisi Senin, 04 Desember. https://www.alodokter.com/ diakses Kamis, 02 November 2023, 10:24.

Hartiyanti, T., & Raharjo, B. B. 2018. “Pengembangan Model Jumantik Bergilir Berbasis Dasa Wisma dan Pengaruhnya terhadap Angka Bebas Jentik.” Journal of Health Education, vol. 3(2), 118-125.

Herlyana, D., Sunarsih, E., & Ardillah, Y. 2015. “Hubungan Sanitasi Perumahan dengan Keberadaan Jentik Aedes sp. di Wilayah Kerja Puskesmas Kutaraya Kayu Agung.” Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat6(3).

Hasyim, D. M. 2016. “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Psn DBD).” Jurnal Kesehatan4(2).

Yusmidiarti, Petunjuk Kader Jumantik Juru Pemantau Jentik, Penerbit Manggu.

Tags: ,

Bagikan ke

Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan DBD, Perlu diingat!

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan DBD, Perlu diingat!

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Periksa
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: