Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
Teh Ayu● online 6282116932476
Teh Neng● online 6282116932479
● online
- Jaringan dan Pembaharuan Ulama Tafsir Nusantara Ab....
- Hak Asasi Manusia dalam Realitas Global....
- Filsafat Islam: Sejarah Tokoh dan Pemikirannya....
- Budaya Sunda....
- Implementasi Kebijakan Publik Strategi Kebijakan u....
- Dinamika Fatwa Keuangan Syariah....
- Kapita Selekta Pendidikan Islam....
- Tuntutan Kemerdekaan Papua: Analisis Yuridis dalam....
Gemilang dan Megahnya Kerajaan Kediri: Jejak Sejarah yang Mempesona
Sejarah Nusantara dipenuhi dengan gemerlap kejayaan dan kebijaksanaan penguasa-penguasa yang menciptakan kerajaan-kerajaan megah, dan salah satunya adalah Kerajaan Kediri atau dikenal juga sebagai Kerajaan Panjalu. Berdiri di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur, Kerajaan Kediri menjadi bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Mataram Kuno dengan corak Hindu yang kental. Keberadaannya berkisah tentang kelahiran dan perkembangan sebuah kerajaan yang menciptakan warisan yang tak terlupakan.
Kisah Kerajaan Kediri dimulai pada abad ke-12, kira-kira antara tahun 1042 hingga 1222 Masehi. Penciptanya adalah Airlangga, seorang pemimpin bijaksana yang membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua pada tahun 1041 M. Pembagian ini dilakukan oleh Empu Bharada, seorang Brahmana sakti, dan menghasilkan dua kerajaan baru: Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri). Batas antara keduanya dijelaskan oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas, menciptakan dua entitas yang berkembang secara independen.
Namun, sepeninggal Airlangga, konflik mulai menghiasi sejarah kedua kerajaan tersebut. Prasasti Sirah Keting (1104 M) mencatat nama Sri Jayawarsa sebagai raja pertama Kediri, mengisyaratkan adanya konflik dan pergolakan dalam perebutan kekuasaan. Pusat pemerintahan Kerajaan Kediri, yang berlokasi di Daha atau yang kini kita kenal sebagai Kota Kediri, berada di tepi Sungai Brantas, sebuah jalur pelayaran yang vital pada masa itu. Dipimpin oleh Sri Samarawijaya pada awal berdirinya, Kerajaan Kediri tumbuh pesat menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di Nusantara. Namun, puncak kejayaan mereka terjadi di bawah pemerintahan Raja Jayabaya (1135-1159 Masehi). Masa ini menjadi zaman emas, di mana sastra berkembang pesat dan pengaruh Kerajaan Kediri merambah hingga ke seluruh Nusantara, bahkan berhasil mengungguli dominasi Kerajaan Sriwijaya.
BACA JUGA:
Tentang Kerajaan Tarumanegara: Sebuah Perjalanan Sejarah yang Mendebarkan
Berdirinya Kerajaan Kediri: Bagian dari Pewarisan Sejarah
Perintah Airlangga untuk membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, menciptakan tonggak bersejarah bagi Nusantara. Prasasti Turun Hyang II (1044 M) mencatat adanya perang saudara antara Jenggala dan Kediri sepeninggal Airlangga. Meskipun Kerajaan Kediri belum sepenuhnya terungkap pada awal perkembangannya, Prasasti Sirah Keting tahun 1104 memberikan pengetahuan awal tentang keberadaan Kerajaan Kediri, mencatat nama Sri Jayawarsa sebagai raja pertamanya. Letak geografis Kerajaan Kediri di Jawa Timur, terutama di Daha, memberikan keuntungan strategis. Pusat pemerintahannya yang terletak di tepi Sungai Brantas menjadi pusat pelayaran yang ramai, mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan kerajaan. Daftar raja-raja Kerajaan Kediri, seperti Sri Bameswara, Sri Jayabaya, hingga Sri Kertajaya, mencerminkan kepemimpinan yang kuat dan perkembangan yang berkelanjutan.
Namun, kejayaan tidak selalu bersifat abadi. Setelah hampir dua abad berdiri, Kerajaan Kediri mulai menemui titik lemah. Perselisihan antara Raja Kertajaya dan kaum Brahmana menjadi pemicu terjadinya peperangan. Kertajaya, yang memerintah sejak 1194 hingga 1422, terkenal kejam dan bahkan mengaku sebagai dewa. Kekejamannya mencapai puncak ketika ia memaksa kaum Brahmana untuk menyembahnya dan mengklaim ketidakmampuan Dewa Shiwa untuk mengalahkannya.
Runtuhnya Kerajaan Kediri: Sebuah Akhir yang Menyedihkan
Peperangan antara Panjalu dan Jenggala, yang berlangsung selama 60 tahun, menjadi puncak dari pertentangan antara kedua anak Airlangga yang merasa berhak atas takhta ayah mereka. Akhirnya, Jenggala mampu memenangkan perang, tetapi Panjalu berhasil merebut seluruh tahta yang sebelumnya dimiliki oleh Airlangga. Kemenangan ini membuat ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kediri, dan pada akhirnya, Panjalu lebih dikenal daripada Kediri. Setelah kemenangan ini, Kerajaan Kediri mulai meredup. Pusat pemerintahan yang awalnya berada di Daha kini harus berpindah, dan Kerajaan Singosari, yang didirikan oleh Ken Arok, menjadi penerusnya. Peninggalan Kerajaan Kediri, seperti Situs Tondowongso, Arca Dewa Siwa Catur Muka, Prasasti Sirah Keting, Prasasti Tulungagung dan Kertosono, Prasasti Ngantang, Prasasti Jaring, dan Prasasti Kamula, menjadi bukti material kejayaan yang pernah ada.
Jejak Peninggalan serta Sumber Utama ditemukan Kerajaan Kediri
Berikut adalah beberapa peninggalan Kerajaan Kediri, antara lain:
- Candi Penataran, terletak di Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Jawa Timur.
- Candi Surawana, terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini merupakan candi Buddha yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.
- Prasasti Kakawin Nagarakretagama, ditulis pada masa pemerintahan Raja Jayanegara dari Kerajaan Majapahit. Prasasti ini memuat tentang sejarah Kerajaan Kediri.
BACA JUGA:
Majapahit: Memahami Kejayaan dan Warisan Kekaisaran Terakhir di Nusantara
Kerajaan Kediri meninggalkan pengaruh yang besar pada perkembangan sejarah dan kebudayaan di Indonesia. Kerajaan ini berhasil mengembangkan berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, budaya, dan agama. Sumber utama tentang Kerajaan Kediri adalah prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Timur, antara lain:
- Prasasti Sirah Keting, yang ditemukan di Desa Sirah Keting, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis pada tahun 1126 Saka atau 1204 Masehi dan memuat tentang penyerahan kekuasaan Kerajaan Kediri dari Raja Kertajaya kepada Ken Arok.
- Prasasti Kamulan, yang ditemukan di Desa Kamulan, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis pada tahun 1194 Saka atau 1272 Masehi dan memuat tentang sejarah Trenggalek dan Tulungagung serta Kerajaan Kediri saat diserahkan oleh raja Kerajaan Sebelah Timur.
- Prasasti Jaring, yang ditemukan di Desa Jaring, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis pada tahun 1194 Saka atau 1272 Masehi dan memuat tentang pemberian hadiah kepada rakyat oleh Raja Kertajaya.
- Prasasti Ngantang, yang ditemukan di Desa Ngantang, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis pada tahun 1194 Saka atau 1272 Masehi dan memuat tentang pemberian hadiah kepada rakyat oleh Raja Kertajaya.
- Prasasti Galunggung, yang ditemukan di Desa Galunggung, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Prasasti ini ditulis pada tahun 1201 Saka atau 1279 Masehi dan memuat tentang pembangunan sebuah candi oleh Raja Kertajaya.
Kesimpulan
Melalui jejak sejarah yang tertulis dan peninggalan-peninggalan megah, Kerajaan Kediri tetap hidup dalam ingatan dan warisan Nusantara. Kisah kebangkitan, gemilang, konflik, dan akhir tragisnya, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari rentetan sejarah Nusantara. Meskipun telah berlalu berabad-abad, kerajaan ini meninggalkan kenangan tentang kebesaran dan kejayaan, yang perlu kita lestarikan dan hargai sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Referensi :
Tim Redaksi. 2023. “Kerajaan Kadiri.” Wikipediaensiklopedia. Rubrik Berita. Edisi Senin, 10 November. https://id.wikipedia.org/ diakses Rabu, 15 November 2023, 09:24.
Wulandari, Trisna. 2021. “Kerajaan Kediri: Sejarah Berdiri, Masa Kejayaan, dan Keruntuhan.” detikedu. Rubrik Berita. Edisi Selasa, 31 Agustus. https://detik.com/ diakses Rabu, 15 November 2023, 14:44.
Tim Redaksi 2023. “Sejarah Kejaan Kediri.” Sman13Semarang. Rubrik Berita. Edisi Senin, 12 Februari. https://sma13smg.sch.id/ diakses Rabu, 15 November 2023, 08:54.
Teniwut, Meilani. 2023. “Sejarah Kerajaan Kediri, Puncak Kejayaan, dan Peninggalannya.” MediaIndonesia. Rubrik Berita. Edisi Senin, 01 Mei. https://mediaindonesia.com/ diakses Rabu, 15 November 2023, 08:54.
Hera Hastuti, Sejarah Nusantara Zaman Hindu Buddha, Penerbit Manggu.
Zul’ Asri, Sejarah Nusantara Zaman Hindu Buddha, Penerbit Manggu.
Zafri, Sejarah Nusantara Zaman Hindu Buddha, Penerbit Manggu.
Tags: Jejak Sejarah, sejarah nusantara
Gemilang dan Megahnya Kerajaan Kediri: Jejak Sejarah yang Mempesona
Di era sekarang, kita mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kata “estetik.” Misalnya, ketika melihat suatu ruangan yang minimalis, bagus... selengkapnya
Perdagangan saham telah menjadi bagian integral dari dunia keuangan global, dan teknologi terbaru telah membawa perubahan signifikan dalam cara perdagangan... selengkapnya
Jentik adalah tahap larva dari nyamuk yang hidup di lingkungan air. Biasanya, jentik ini memiliki kebiasaan mendekat atau bergantung pada... selengkapnya
Bakso dan seblak adalah dua makanan favorit yang populer di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Meskipun keduanya menawarkan sensasi makanan... selengkapnya
Bakso, bola daging gurih yang disajikan dalam kuah panas dengan mie dan tambahan bahan lainnya, adalah salah satu makanan paling... selengkapnya
Pengembangan karier adalah sebagian dari perjalanan mencapai impian dan menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri di tempat kerja.... selengkapnya
Kewirausahaan atau entrepreneur dapat dibagi menjadi dua bagian besar; yaitu teknopreneur dan sosiopreneur. Keduanya merupakan pengembangan dari konsep kewirausahaan. Teknopreneur... selengkapnya
Kesetaraan gender adalah salah satu prinsip mendasar hak asasi manusia yang harus dijunjung tinggi di seluruh dunia. Meskipun banyak kemajuan... selengkapnya
Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan jati diri seseorang. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat dan perubahan sosial yang... selengkapnya
Investasi saham adalah salah satu cara yang potensial untuk mengembangkan kekayaan Anda, tetapi juga melibatkan risiko yang signifikan. Salah satu... selengkapnya
Buku Sistem pemerintahan desa di Indonesia membahas sejarah desa, kedudukan, kewenangan dan dinamika yang melingkupi desa, susunan pemerintahan desa, mekanisme… selengkapnya
Rp 70.000 Rp 81.000Agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan serta peribadatan kepada Tuhan serta tata kaidah yang berhubungan dengan adat istiadat, dan pandangan… selengkapnya
Rp 120.000Manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengaruh suatu kelompok orang ke arah tujuan organisasi atau… selengkapnya
Rp 92.000Algoritma adalah suatu urutan atau alur yang dipakai dalam perhitungan atau pemecahan masalah secara sistematis, dan dalam aktivitas pemrograman algoritma… selengkapnya
*Harga Hubungi CSStatistik adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, lalu menginterpretasikan, dan akhirnya mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah… selengkapnya
Rp 125.000Analisis industri merupakan penilaian pasar yang digunakan oleh para pebisnis dan analis untuk memahami dinamika persaingan pada suatu industri. Analisis… selengkapnya
Rp 49.000 Rp 56.000Buku “ASI dan Ayah ASI” merupakan buku panduan praktis bagi ayah dalam mendukung ibu memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi… selengkapnya
Rp 67.000Buku panduan praktikum bakteriologi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang dunia mikroorganisme, khususnya bakteri, serta teknik-teknik praktis yang diperlukan… selengkapnya
Rp 60.000Buku “Relasi Islam dan Tradisi Lokal: Potret atas NU, Muhammadiyah, Wahabi, & Baduy” karya Dr. Hasani Ahmad Said dari UIN… selengkapnya
Rp 59.500 Rp 67.980Kamus Air Pengarang: Bambang Hari Prabowo, ST. MT. ISBN: 978-602-5717-67-3 Kertas: Bookpaper Isi: 180 Halaman Terbit: 2019 Penerbit: Manggu Makmur… selengkapnya
Rp 35.000

Saat ini belum tersedia komentar.